Ilustrasi tentang pilihan (kedua)


“Desires dictate our priorities, priorities shape our choices, and choices determine our actions.”

Pilihan = Peran.
Kenapa?
Karena dari hasil setiap pilihan menetukan tindakan yang akan kita perankan. Mengerti?
Saya rasa kalian mengerti. Jadi tak perlu panjang lebar lagi untuk menjelaskannya.

What kind of tea do you want?”
“There´s more than one kind of tea?…What do you have?”
“Let´s see..Blueberry, Raspberry, Ginseng, Sleepytime, Green Tea, Green Tea with Lemon, Green Tea with Lemon and Honey, Liver Disaster, Ginger with Honey, Ginger Without Honey, Vanilla Almond, White Truffle Coconut, Chamomile, Blueberry Chamomile, Decaf Vanilla Walnut, Constant Comment and Earl Grey.”
-“I.. Uh…What are you having? Did you make some of those up?” Lee O’Malley,

Pernah bimbang dan bingung memutuskan, ketika disodorkan beberapa pilihan sekaligus??
Pasti susah kan memilihnya?? Sukurin!! Rasaaain *ehh🙂

Dari kejadian yang pernah dialami baik saya atau pun teman bercerita lainnya, saya menyimpulkan bahwasannya pilihan itu adalah konsekuensi, artinya setiap pilihan akhirnya menggerakkan kita pada apa yang akan kita jalani saat ini atau setelah pengambilan keputusan pilihan tersebut. Konsekuensi ini juga identik dengan pertahuran ideologi untuk mendapatkan jati diri dalam memerankan peran di kehidupan yang singkat ini. Pilihan bisa saja ada dimanapun dia suka, dia datang tak diundang namun sering menjengkelkan.
Pilihan, yaaa. dia ada..dimana saja dia mau. Di pekerjaan, pendidikan, agama, cinta etc.

Mari kita ilustrasikan lagi.

She wasn’t afraid of difficulties; what frightened her was being forced to choose one particular path.
Choosing a path meant having to miss out on others. She had a whole life to live and she was always thinking that, in future, she might regret the choices she made now.
‘I’m afraid of committing myself,’ she thought to herself. She wanted to follow all possible paths and so ended up following none.
Even in that most important area of her life, love, she had failed to commit herself. After her first romantic dissappointment, she had never again given herself entirely. She feared pain, loss and separation. These things were inevitable on the path to love, and the only way of avoiding them was by deciding not to take that path at all. In order not to suffer, you had to renounce love. It was like putting out your own eyes in order not to see the bad things in life.

Lalu pertanyaannya, apakah ada pilihan yang salah ??
Salah benar itu sebenarnya relatif. Karena, persepsi tiap orang berbeda. Salah di mata orang lain, belum tentu itu salah di mata kita.
Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi dan mempertimbangkan baik buruknya secara matang pilihan yang telah kita ambil.

You can’t control what others think. The only thing you can control is yourself. Some people will look down on you for your choices in life, no matter what they are. You can’t do anything about that. The only thing you can do is decide how to live your own life. And to hell with everybody else.
Terserah orang lain mau bilang apa tentang keputusan pilihan kita, toh kita yang selanjutkan memerankan peran pilihan itu.
You cannot continue on the same path and arrive at a different destination. Make the choice to have your actions reflect your goals.

Ada beberapa diantara kita pasti pernah menyesali pilihan-pilihan yang lalu, namun mau bagaimana lagi?? waktu tidak bisa diulang, dan menyesal pun bagi saya bukanlah pilihan.
Intinya pilihan kita, Peran kita.

—Kau bilang hidup jangan disesali. Aku bilang hidup jangan dikecewakan!!—

“Kehidupan ini tak selalu memberikan kita pilihan terbaik. Terkadang yang tersisa hanya pilihan-pilihan berikutnya. Orang yang bahagia selalu berpegangan pada pilihan kedua yang terbaik. Melupakan pilihan pertama yang tak pernah bisa kau capai.”
Bila aku harus memilih pilihan kedua, setidaknya bukan aku yang salah karena menyerah, tapi dia yang mulai lelah dan menghentikan semua”🙂

Well, lebih baik kita akhiri cerita ini ya teman bercerita..nampaknya saya terlalu serius menanggapi tentang peran dari ilustrasi pilihan ini. Byee *kemudian hening*

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s